Dari Sinyal Kosmik ke Roguelite: Kenapa Effulgence RPG Segitu Dibicarain?
Kalau cuma lihat satu screenshot Effulgence RPG, kemungkinan besar reaksi pertama lo adalah: “Ini game baru atau terminal lagi ngadat?” Dunia yang lo lihat bukan hutan 3D, bukan kota futuristik, tapi bola besar yang seluruh kulitnya tersusun dari karakter teks bercahaya. Karakter lo, musuh, environment, sampai efek skill, semua dibangun dari simbol-simbol ASCII yang biasanya cuma nongol di monitor admin server. Tapi entah gimana, di tangan developer indie bernama Andrei Fomin, konsep “game yang kelihatan kayak error” ini berubah jadi salah satu RPG sci-fi paling menarik di Steam untuk akhir 2025.
Effulgence RPG review ini wajib dimulai dari konteks: game ini bukan proyek studio besar dengan tim puluhan orang. Ini karya satu kreator yang ngerjain desain, konsep, sampai arah artistik, lalu ngerilisnya sendiri via Steam. Effulgence meluncur dalam format Early Access pada 2 Desember 2025, dan memposisikan diri sebagai “sci-fi party RPG pendek yang bisa lo ulang berkali-kali dengan variasi build.” Durasi satu perjalanan (satu run) sengaja dibuat padat, sementara potensi kombinasi dan rutenya yang dibikin lebar.
Secara naratif, Effulgence berangkat dari premis yang cukup mindblowing: manusia menerima sinyal video dari jarak luar biasa jauh di luar galaksi. Karena jaraknya kebangetan, yang sampai ke kita bukan gambar utuh, tapi serpihan simbol yang kemudian disusun ulang jadi “rekaman dunia lain” berbentuk animasi ASCII. Dari sinilah lahir setting game: mungkin yang lo mainkan adalah arsip peradaban yang udah punah, mungkin simulasi, mungkin juga bentuk invasi digital. Game-nya sengaja nggak ngasih semua jawaban sekaligus, jadi lo selalu main sambil mikir, “sebenarnya gue lagi ngelihat apa sih?”
Di atas kertas, Effulgence adalah party-based, turn-based RPG dengan sentuhan roguelite. Lo bakal mengendalikan tim kecil karakter di atas globe ASCII 3D yang bisa lo putar-putar. Tiap titik di permukaan globe merepresentasikan encounter: bisa pertempuran, event khusus, toko, atau spot upgrade. Polanya mirip “board game digital” yang lo rangkai sendiri jalurnya. Dan karena setiap run ngasih susunan node yang beda, pengalaman lo tiap kali main nggak pernah seratus persen sama.
Yang bikin Effulgence kebanjiran atensi bukan cuma visualnya yang nggak ada saudara, tapi juga satu tagline yang muncul di materi promosi dan langsung jadi bahan diskusi: “enemies are the resource.” Ini bukan sekadar gimmick marketing. Dalam game, musuh memang bukan hanya penghalang; mereka adalah bahan baku utama buat pertumbuhan karakter lo. Begitu musuh kalah, tubuh mereka runtuh jadi partikel ASCII yang bisa diolah jadi senjata dan gear baru lewat mesin printer futuristik. Main Effulgence tuh kayak jadi tukang rongsok di luar angkasa: setiap musuh yang lo hancurkan adalah inventaris masa depan.
Buat komunitas RPG dan penggemar indie, kombinasi konsep ini langsung nangkring di kepala. Situs dan kanal yang fokus ke game turn-based sempat ngangkat Effulgence sebagai salah satu “upcoming indie paling liar idenya” untuk Desember. Di forum dan Reddit, thread yang ngebahas game ini dipenuhi komentar penasaran: gimana cara mereka bikin ASCII kelihatan modern, apa nggak pusing lihat simbol terus, dan seberapa dalam sistem party-nya?
Kalau dilihat dari pola rilisan, Effulgence datang di momen yang pas. Akhir tahun biasanya penuh game besar, tapi justru di sela-sela itulah judul indie yang beda bisa mencuri perhatian. Effulgence nggak bersaing soal ukuran, tapi soal identitas: di feed penuh trailer glossy, dia muncul sebagai globe dari karakter teks yang menyala. Lo sekali lihat, langsung ingat. Itu value besar buat game kecil yang butuh setiap detik perhatian.
Effulgence RPG Review: Musuh Jadi Bahan Baku, Globe ASCII Jadi Papan Roguelite
Begitu lo masuk ke run pertama Effulgence RPG, game ini langsung ngejelasin “bahasa visual” yang bakal lo pakai sepanjang sesi. Kamera menampilkan globe ASCII 3D yang bisa lo putar, dengan titik-titik bercahaya di permukaannya. Setiap titik adalah node: bisa pertempuran, event, atau lokasi spesial. Lo pilih titik, karakter lo bergerak, dan dunia sekitar ikut berubah, tapi tetap dalam format teks yang dirakit ulang setiap kali. Rasanya kayak main board game digital yang diproyeksikan ke bola kosmik.
Secara struktur, Effulgence ke arah roguelite yang durasinya padat. Satu perjalanan bisa selesai dalam beberapa jam, dengan tiap encounter dirancang cukup ringkas tapi menuntut lo mikir. Lo nggak bakal ketemu map open world raksasa atau kota penuh NPC; fokusnya ada di keputusan: jalur mana yang lo ambil, musuh mana yang lo lawan dulu, dan kapan lo berinvestasi di upgrade versus main aman. Pola node ini mirip beberapa deckbuilding roguelite modern, tapi dengan baju sci-fi ASCII dan fokus ke party-based combat.
Begitu masuk pertempuran, perspektif kamera berubah: lo melihat medan tempur yang juga tersusun dari simbol. Karakter lo dan musuh ditandai dengan bentuk tertentu, tapi yang penting adalah informasi: posisi, jarak, dan ikon skill. Sistemnya turn-based, jadi setiap giliran, lo punya waktu mikir mau ngapain. Lo bisa ngeluarin serangan, skill, taktik area, atau berinteraksi dengan elemen di arena. Walaupun tampilannya minimalis, efeknya tetap kerasa: ada ledakan terang, ada simbol yang tercerai-berai, ada pola cahayanya sendiri.
Di sinilah konsep “enemies are the resource” mulai berasa di tangan. Tiap musuh yang lo habisin bakal pecah jadi partikel ASCII yang otomatis dikumpulin. Lo nggak panen kayu, batu, atau bijih logam seperti crafting biasa; lo panen sisa-sisa digital musuh yang baru aja lo lawan. Setelah punya cukup partikel, lo bisa mampir ke node printer — atau mengakses mekanisme printer tertentu — buat ngubah kumpulan teks itu jadi senjata baru, perisai, gadget, atau mekanisme taktis yang lebih gila.
Printer ini fungsinya kayak gabungan antara bengkel senjata dan 3D printer luar angkasa. Lo punya blueprint yang menentukan jenis item apa yang bisa dibuat: pistol yang tembakannya nyebar, perisai yang ngasih perlindungan area, sampai perangkat yang bisa ngacak-ngacak medan pertempuran. Setiap run, blueprint yang lo temukan bisa beda, jadi rasanya lebih dekat ke sistem deckbuilding: lo nggak bikin “koleksi permanen”, tapi rakit toolkit sementara yang berlaku untuk perjalanan itu saja.
Di atas semua itu, ada layer tambahan berupa “tactical cartridges”. Ini semacam kartu kemampuan yang bisa lo aktifkan di tengah fight buat nge-shift momentum: buff, debuff, efek area, dan trik kotor lainnya. Kombinasi antara cartridges, senjata, dan role di party bikin setiap komposisi tim punya gaya main yang beda. Ada run yang bikin lo main agresif, selalu maju dan nyerang duluan, ada juga yang memaksa lo main lebih sabar, tarik-mundur, dan nunggu momen yang pas.
Walaupun semuanya dibingkai dalam visual ASCII, developer cukup niat soal readability. Ukuran font, kontras warna, dan komposisi simbol ditata supaya informasi tetap kebaca di tengah “kekacauan teks”. Buat game kayak gini, itu penting banget. Satu langkah salah bisa bikin layar berubah dari “keren” jadi “pusing”, tapi dari informasi yang udah ada, Effulgence lumayan berhasil ngejaga batas ini, sampai-sampai disebut playable dengan baik di Steam Deck juga.
Respon awal dari komunitas lumayan positif. Beberapa YouTuber dan media turn-based sempat ngebahas demonya dan build awal Early Access, dan banyak yang meng-highlight gimana Effulgence berhasil bikin style dan sistem saling dukung. Visual ASCII bukan tempelan: dia nyambung dengan lore soal sinyal jarak jauh, konsep partikel, dan dunia yang berasa kayak data rusak. Pertarungan juga nggak sekadar jadi tempat unjuk efek; lo benar-benar ditantang buat mikirin resource, posisi, dan prioritas target.
Dari sisi pacing, Effulgence berasa pas buat lo yang pengen sesuatu di antara “game ringan 20 menit” dan “RPG 100 jam”. Satu sesi bisa dituntaskan dalam satu atau dua malam, tapi ruang eksplorasi build dan rute bikin lo mudah kejebak pola “sekali lagi deh, penasaran kalau ambil jalur kanan semua gimana.” Buat gamer yang punya waktu terbatas tapi masih pengen strategi dalam, ini sweet spot yang menarik.
Masa Depan Effulgence: Game Indie Kecil yang Pede Tampil Aneh
Kalau ditanya, “Effulgence RPG ini buat siapa?”, jawabannya mungkin bukan “buat semua orang.” Justru di situ menariknya. Game ini jelas nge-incar pemain yang suka eksperimen, yang nggak masalah butuh 10–15 menit adaptasi visual, dan yang menikmati loop roguelite berbasis keputusan. Effulgence nggak menawarkan open world luas atau dialog sinematik panjang, tapi menawarkan sesuatu yang nggak setiap hari lo lihat: RPG ASCII 3D yang tampil berani.
Dari kacamata tren game indie, Effulgence nunjukin kalau masih banyak ruang buat eksperimen di level fundamental: bukan cuma di sistem battle atau cara bercerita, tapi juga di cara dunia ditampilkan. Banyak game indie milih jalur aman dengan pixel art atau low poly, yang jelas sah-sah saja. Effulgence melompat jauh dan bilang, “gimana kalau kita bikin dunia dari karakter teks, tapi dengan treatment lighting dan komposisi kayak art installation?” Hasilnya: game yang orang bisa kenali hanya dari thumbnail kecil di beranda.
Sebagai Early Access, Effulgence juga masih dalam fase “bertumbuh bareng pemain.” Roadmap yang sudah disebutin meliputi penambahan lokasi baru di globe, variasi musuh, blueprint, cartridges, bahkan perluasan narasi. Jadi, versi yang lo mainkan sekarang kemungkinan masih pondasinya. Kalau feedback komunitas aktif dan developer konsisten, Effulgence bisa pelan-pelan naik kelas dari “eksperimen seru” jadi “cult classic” yang sering direkomendasikan tiap kali ada yang nanya, “ada RPG pendek, unik, tapi tetap dalam nggak?”
Tentu ada sisi yang mungkin bikin sebagian pemain mundur. Durasi yang relatif singkat per run bisa terasa “kurang daging” buat penggemar JRPG super panjang. Tampilan ASCII, walaupun sudah diusahakan readable, tetap punya potensi bikin lelah mata kalau lo tipe yang suka UI super glossy dan efek partikel modern. Tapi di era di mana banyak game berlomba jadi semakin mirip satu sama lain, punya identitas yang terasa “bukan buat semua orang” malah sering jadi kekuatan jangka panjang.
Effulgence RPG review ini pada akhirnya cuma bisa ngedorong satu hal: kalau lo termasuk gamer yang senang eksplor sisi liar skena indie, game ini pantas banget masuk wishlist. Lo bisa mulai dari langkah paling simpel: buka halaman resminya di Steam, tonton trailer Early Access, baca penjelasan soal sinyal kosmik dan partikel ASCII, lalu lihat apakah klik di kepala lo.
Kalau cocok, Effulgence berpotensi jadi salah satu pengalaman RPG pendek paling berkesan yang lo mainkan tahun ini—bukan karena jumlah cutscene atau size instalasi, tapi karena rasanya benar-benar ngasih sesuatu yang baru. Lo bukan cuma ngalahin musuh, lo literally ngerombak bangkai mereka jadi senjata, di dalam dunia yang mungkin cuma sisa-sisa sinyal dari ujung lain galaksi. Dan di tengah timeline game yang penuh formula aman, punya satu judul yang berani se-aneh ini rasanya selalu menyenangkan.

